Hari ini ceritanya abis nonton MotoGP.
Hal yang pertama gua pengen liat adalah nomer 58,
dan seketika itu pula menjadi hening.
Super Sic! Had been so long since the accident was happen, sejak peristiwa itu dunia menangis. Seseorang yang tidak kami kenal, bisa menjadi begitu dalam. Gua nangis. Jujur. Itu ngalir gitu aja.
Dan, ini terjadi lagi.
Dari begitu banyak pembalap, dari begitu banyak motor dan nomor, gua selalu fokus sama satu orang. Dan sekarang itu seakan-akan hampa. Kosong.
Itu cuma contoh kecil. Gimana kalau dia adalah orang terdekat gua? Gimana kalau orang terdekat gua yang harus ngalamin itu? Gimana kalau gua yang harus kehilangan salah satu dari orang terdekat gua?
Gua selalu berpikir orang lain yang akan mati, gua selalu berfikir seperti itu dan gua menjalani hari-hari ini dengan pandangan; yang bakal mati itu orang lain, bukan gua. Tapi sekarang gua mikir, kalau orang lain berfikiran seperti apa yang gua fikirkan, apa iya kematian itu menjadi sebuah paradoks? Lelucon? Apa iya deskripsi kematian semudah itu? Gua salah.
Ini mengingatkan gua, betapa-sangat-kecilnya gua dari yang maha tinggi. Gua seakan-akan melupakan elemen satu ini, gua selalu berfikir ini dunia gua! Dan gua melupakan elemen penting dalam hidup gua. Yaa. Gua cuma kecil dan hina ketika gua lupa dengan kematian gua yang sedang menunggu didepan sana. Dari contoh kecil itu gua tersadar, betapa sangat pentingnya hidup ketika kita mengingat kematian.
Sic mengingatkan gua betapa pentingnya seseorang ketika ia teah tiada. Karangan bunga, air mata, bela sungkawa, doa dari semua yang datang di hari terakhir, itu menjadi teman kita menuju alam yang lain. Gua mikir, apa iya gua akan seperti itu? Karangan bunga dan semuanya, apa iya semua yang mengenal gua datang di hari terakhir gua? Setiap kata dan semua yang pernah gua lakukan, apa iya ada sedikit ruang untuk mengingat gua, ketika gua pergi?
_________________
Race In Peace, Sic!